Sejarah Lengkap SMP Kesatrian 1 Semarang
Sejarah SMP Kesatrian 1 Semarang tidak dapat dilepaskan dari dinamika sejarah Kota Semarang pada pertengahan tahun 1960-an. Sekolah ini lahir dari sebuah transformasi besar di tengah gejolak politik nasional, tumbuh dari puing-puing konflik menjadi salah satu institusi pendidikan swasta terkemuka di Semarang.
1. Periode Awal: Latar Belakang & Era Transisi (1965–1967)
Cikal bakal sekolah ini bermula dari institusi pendidikan bernama “Yayasan Sekolah Semarang”. Pada masa itu, sekolah ini memiliki keterkaitan dengan komunitas Tionghoa di Semarang.
Ketika meletus peristiwa G30S/PKI (1965) dan gejolak politik yang menyertainya, banyak sekolah yang dianggap berafiliasi dengan organisasi terlarang (seperti Baperki) atau berhaluan kiri menjadi sasaran amuk massa. Gedung sekolah yang berlokasi di Jalan Gajahmada 123, Semarang, turut menjadi korban dan dibakar hingga menjadi puing-puing.
Peristiwa ini menjadi titik balik. Demi menyelamatkan pendidikan para siswa dan keberlangsungan sekolah, dilakukan langkah penyelamatan strategis:
- 30 April 1967: “Yayasan Sekolah Semarang” secara resmi dibubarkan.
- 2 Mei 1967: Para kepala sekolah dari bekas institusi tersebut sepakat menetapkan identitas baru. Nama “Sekolah Semarang” diubah menjadi “Sekolah Kesatrian”. Pemilihan nama ini menyiratkan semangat baru yang nasionalis dan patriotik.
2. Kelahiran Yayasan Pendidikan Kesatrian 67 (Mei 1967)
Untuk memberikan payung hukum yang kuat dan memisahkan diri dari masa lalu, didirikanlah yayasan baru yang menaungi sekolah ini.
- 29 Mei 1967: Didirikan Yayasan Pendidikan Kesatrian 67 (biasa disingkat YPK 67). Tanggal ini sering diperingati sebagai tonggak berdirinya institusi Kesatrian secara formal. Salah satu tokoh sentral dalam pendirian dan kepemimpinan awal yayasan ini adalah H.A. Soetarto Hadiwinoto.
3. Pembangunan Kembali & Kampus Gajahmada (Juni 1967)
Setelah memiliki badan hukum baru, fokus utama adalah pembangunan fisik agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan normal kembali.
- 2 Juni 1967: Dimulailah pembangunan kembali gedung sekolah di Jalan Gajahmada 123. Di atas tanah bekas puing-puing pembakaran, dibangun gedung permanen dua lantai yang terdiri dari:
- 14 Ruang Kelas
- 1 Ruang Laboratorium
- 6 Ruang KantorLokasi di Jalan Gajahmada 123 inilah yang menjadi “kawah candradimuka” pertama bagi unit-unit sekolah Kesatrian, termasuk TK, SD, SMP, dan SMA Kesatrian pada masa awalnya.
4. Era Perkembangan dan Ekspansi (1980-an – 2000-an)
Seiring dengan tingginya kepercayaan masyarakat, kompleks Jalan Gajahmada 123 tidak lagi cukup menampung seluruh siswa. Yayasan kemudian melakukan pengembangan dengan memecah lokasi unit-unit sekolahnya:
- Pemisahan Unit: Karena keterbatasan lahan dan strategi pengembangan, unit TK dan SD kemudian ditutup (sekitar tahun 1990-an) agar yayasan bisa fokus pada jenjang SMP dan SMA.
- Relokasi Kampus:
- SMA Kesatrian 1 kemudian menempati lokasi baru di Jl. Pamularsih.
- SMA Kesatrian 2 tetap bertahan di Gajahmada (sebelum akhirnya pindah ke Jl. Gajah Raya).
- SMP Kesatrian 1 Semarang kemudian berkembang dan menempati kampus modern yang terpisah untuk mengakomodasi fasilitas yang lebih lengkap.
5. Era Modern: Kampus Arteri Soekarno-Hatta
Saat ini, SMP Kesatrian 1 Semarang menempati lokasi strategis di kawasan Semarang Timur/Pedurungan. Perpindahan ke lokasi ini menandai era modern sekolah dengan fasilitas yang jauh lebih memadai dibandingkan era awal di Gajahmada.
- Lokasi Saat Ini: Jl. Arteri Soekarno-Hatta No. 64, Palebon, Kec. Pedurungan, Kota Semarang.
- Transformasi Identitas: Di era modern, SMP Kesatrian 1 Semarang membranding dirinya sebagai “Sekolah Berbasis Multipel Inteligensi” (Multiple Intelligences). Pendekatan ini mengakui bahwa setiap siswa memiliki kecerdasan unik yang berbeda-beda (tidak hanya akademis, tapi juga seni, olahraga, sosial, dll) dan sekolah bertugas memfasilitasi potensi tersebut.